<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
	<channel>
		<title>Brigade Kosgoro</title>
		<link>http://www.brigadekosgoro.do.am/</link>
		<description>Blog</description>
		<lastBuildDate>Wed, 22 Dec 2010 10:09:48 GMT</lastBuildDate>
		<generator>uCoz Web-Service</generator>
		<atom:link href="https://smpkosgoro.do.am/blog/rss" rel="self" type="application/rss+xml" />
		
		<item>
			<title>Undang-Undang Sisdiknas</title>
			<description>&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Undang-undang No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen,&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Dalam Undang-Undang Tentang Guru dan Dosen memberikan pengertian tentang Guru adalah sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi, peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Selanjutnya dalam Undang-undang tersebut memuat hal-hal sebagai berikut yang berkaitan dengan Kompetensi Guru, diantaranya : Kedudukan, Fungsi dan Tujuan, Prinsip Profesionalitas, Kualifikasi, Kompetensi, dan Sertifikasi.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;- Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi (Pasal 11 ayat 1), dan wajib menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi set...</description>
			<content:encoded>&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Undang-undang No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen,&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Dalam Undang-Undang Tentang Guru dan Dosen memberikan pengertian tentang Guru adalah sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi, peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Selanjutnya dalam Undang-undang tersebut memuat hal-hal sebagai berikut yang berkaitan dengan Kompetensi Guru, diantaranya : Kedudukan, Fungsi dan Tujuan, Prinsip Profesionalitas, Kualifikasi, Kompetensi, dan Sertifikasi.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;- Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi (Pasal 11 ayat 1), dan wajib menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai lima belas tahun (Pasal 11 ayat 2). &lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;- Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan. &lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan diseluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Salah satu hal yang berkaitan dengan kompetensi guru adalah Standar kompetensi lulusan. Hal ini diartikan sebagai kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;UU kurikulum&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 36 ayat (1) pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, ayat (2) kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik, ayat (3) kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan :(a) peningkatan iman dan takwa, (b) peningkatan akhlak mulia, (c) peningkatan potensi kecerdasan, dan minat peserta didik, (d) keragaman potensi daerah dan lingkungan, (e) tuntutan pembangunan daerah dan nasional, (f) tuntutan dunia kerja (g) perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, (h) agama, (i) dinamika perkembangan global, (j) persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 39 ayat (1) tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan, ayat (2) pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. &lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 40 ayat (1) pendidik dan tenaga kependidikan berhak memperoleh (a) penghasilan dan jaminan kesejahteraan yang pantas dan memadai, (b) penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja, (c) pembinaan karier sesuai dengan tuntutan pengembangan kualitas, (d) perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas dan hak atas hasil kekayaan intelektual, (e) kesempatan untuk menggunakan sarana dan prasarana dan fasilitas pendidikan untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas, ayat (2) pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban :(a) menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis dan dialogis, (b) mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;- Kurikulum : seperangkat rencana dan peraturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran saerta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggara kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;- KTSP adalah kurikulum yang disusun dan dilaksanakan di masing-masing satuan pesndidikan &lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ktsp terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum, tingkat satuan pendidikan , karender pendidikan dan silabus&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;- Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan atau kelompok mata pelajaran /tema tertentu yang mencakup standat kompetensi ,kompetensi dasar, jmateri pokok ,kegiatan pembelajaran, indikator, penilain ,indikator, sumber alat bahan dan standart kompetensi &lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;- Silabus merupakan penjabaran standart kompetensi dan kompetensi dasar kedalam materi pokok pembelajaran ,materi pokok pembelajaran , kegiatan penjabaran serta indoikator pencapaian kompetensi untuk penilaian&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;</content:encoded>
			<link>https://smpkosgoro.do.am/blog/undang_undang_sisdiknas/2010-12-22-3</link>
			<dc:creator>kosgoro</dc:creator>
			<guid>https://smpkosgoro.do.am/blog/undang_undang_sisdiknas/2010-12-22-3</guid>
			<pubDate>Wed, 22 Dec 2010 10:09:48 GMT</pubDate>
		</item>
		<item>
			<title>Penjelasan UU Sisdiknas 2003</title>
			<description>&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;I. UMUM&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran dan/atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan, dan ayat (3) menegaskan bahwa Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. Untuk itu, seluruh komponen bangsa wajib mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan salah satu tujuan negara Indonesia.&lt;br&gt;&lt;/blockquote...</description>
			<content:encoded>&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;I. UMUM&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran dan/atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan, dan ayat (3) menegaskan bahwa Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. Untuk itu, seluruh komponen bangsa wajib mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan salah satu tujuan negara Indonesia.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Gerakan reformasi di Indonesia secara umum menuntut diterapkannya prinsip demokrasi, desentralisasi, keadilan, dan menjunjung tinggi hak asasi manusia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Dalam hubungannya dengan pendidikan, prinsip-prinsip tersebut akan memberikan dampak yang mendasar pada kandungan, proses, dan manajemen sistem pendidikan. Selain itu, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat dan memunculkan tuntutan baru dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam sistem pendidikan.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Tuntutan tersebut menyangkut pembaharuan sistem pendidikan, di antaranya pembaharuan kurikulum, yaitu diversifikasi kurikulum untuk melayani peserta didik dan potensi daerah yang beragam, diversifikasi jenis pendidikan yang dilakukan secara profesional, penyusunan standar kompetensi tamatan yang berlaku secara nasional dan daerah menyesuaikan dengan kondisi setempat; penyusunan standar kualifikasi pendidik yang sesuai dengan tuntutan pelaksanaan tugas secara profesional; penyusunan standar pendanaan pendidikan untuk setiap satuan pendidikan sesuai prinsip-prinsip pemerataan dan keadilan; pelaksanaan manajemen pendidikan berbasis sekolah dan otonomi perguruan tinggi; serta penyelenggaraan pendidikan dengan sistem terbuka dan multimakna.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pembaharuan sistem pendidikan juga meliputi penghapusan diskriminasi antara pendidikan yang dikelola pemerintah dan pendidikan yang dikelola masyarakat, serta pembedaan antara pendidikan keagamaan dan pendidikan umum.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pembaharuan sistem pendidikan nasional dilakukan untuk memperbaharui visi, misi, dan strategi pembangunan pendidikan nasional. Pendidikan nasional mempunyai visi terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Dengan visi pendidikan tersebut, pendidikan nasional mempunyai misi sebagai berikut:&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;1. mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;2. membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;3. meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;4. meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar nasional dan global; dan&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;5. memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan RI. Berdasarkan visi dan misi pendidikan nasional tersebut, pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pembaharuan sistem pendidikan memerlukan strategi tertentu. Strategi pembangunan pendidikan nasional dalam undang-undang ini meliputi :&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;1. pelaksanaan pendidikan agama serta akhlak mulia;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;2. pengembangan dan pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;3. proses pembelajaran yang mendidik dan dialogis;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;4. evaluasi, akreditasi, dan sertifikasi pendidikan yang memberdayakan;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;5. peningkatan keprofesionalan pendidik dan tenaga kependidikan;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;6. penyediaan sarana belajar yang mendidik;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;7. pembiayaan pendidikan yang sesuai dengan prinsip pemerataan dan berkeadilan;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;8. penyelenggaraan pendidikan yang terbuka dan merata;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;9. pelaksanaan wajib belajar;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;10. pelaksanaan otonomi manajemen pendidikan;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;11. pemberdayaan peran masyarakat;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;12. pusat pembudayaan dan pembangunan masyarakat; dan&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;13. pelaksanaan pengawasan dalam sistem pendidikan nasional.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Dengan strategi tersebut diharapkan visi, misi, dan tujuan pendidikan nasional dapat terwujud secara efektif dengan melibatkan berbagai pihak secara aktif dalam penyelenggaraan pendidikan. Pembaruan sistem pendidikan nasional perlu pula disesuaikan dengan pelaksanaan otonomi daerah sebagaimana diatur dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Sehubungan dengan hal-hal di atas, Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional perlu diperbaharui dan diganti.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;II. PASAL DEMI PASAL&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 1&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 2&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 3&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 4&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (1) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (2) Pendidikan dengan sistem terbuka adalah pendidikan yang diselenggarakan dengan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program lintas satuan dan jalur pendidikan (multi entry-multi exit system). Peserta didik dapat belajar sambil bekerja, atau mengambil program-program pendidikan pada jenis dan jalur pendidikan yang berbeda secara terpadu dan berkelanjutan melalui pembelajaran tatap muka atau jarak jauh. Pendidikan multimakna adalah proses pendidikan yang diselenggarakan dengan berorientasi pada pembudayaan, pemberdayaan, pembentukan watak dan kepribadian, serta berbagai kecakapan hidup.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (3) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (4) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (5) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (6) Memberdayakan semua komponen masyarakat berarti pendidikan diselenggarakan oleh pemerintah dan masyarakat dalam suasana kemitraan dan kerja sama yang saling melengkapi dan memperkuat.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 5&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 6&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 7&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 8&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 9&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 10&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 11&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 12&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (1) huruf a Pendidik dan/atau guru agama yang seagama dengan peserta didik difasilitasi dan/atau disediakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai kebutuhan satuan pendidikan sebagaimana diatur dalam Pasal 41 ayat (3).&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (1) huruf b Pendidik dan/atau guru yang mampu mengembangkan bakat, minat, dan kemampuan peserta didik difasilitasi dan/atau disediakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan kebutuhan satuan pendidikan sebagaimana diatur dalam Pasal 41 ayat (3).&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (1) huruf c Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (1) huruf d Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (1) huruf e Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (1) huruf f Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (2) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (3) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (4) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 13&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 14&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 15&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pendidikan umum merupakan pendidikan dasar dan menengah yang mengutamakan perluasan pengetahuan yang diperlukan oleh peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pendidikan akademik merupakan pendidikan tinggi program sarjana dan pascasarjana yang diarahkan terutama pada penguasaan disiplin ilmu pengetahuan tertentu.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu maksimal setara dengan program sarjana.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pendidikan keagamaan merupakan pendidikan dasar, menengah, dan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama. Pendidikan khusus merupakan penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 16&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 17&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (1) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (2) Pendidikan yang sederajat dengan SD/MI adalah program seperti Paket A dan yang sederajat dengan SMP/MTs adalah program seperti Paket B. Ayat (3) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 18&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (1) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (2) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (3) Pendidikan yang sederajat dengan SMA/MA adalah program seperti Paket C.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (4) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 19&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 20&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (1)&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Akademi menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam satu cabang atau sebagian cabang ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni tertentu.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Politeknik menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam sejumlah bidang pengetahuan khusus. Sekolah tinggi menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau vokasi dalam lingkup satu disiplin ilmu tertentu dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Institut menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau pendidikan vokasi dalam sekelompok disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Universitas menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau pendidikan vokasi dalam sejumlah ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (2) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (3) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (4) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 21&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (1)&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Gelar akademik yang dimaksud, antara lain, sarjana, magister, dan doktor.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (2) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (3) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (4) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (5) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (6) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (7) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 22&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 23&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (1) Guru besar atau profesor adalah jabatan fungsional bagi dosen yang masih mengajar di lingkungan perguruan tinggi.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (2) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 24&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 25&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 26&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (1) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (2) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (3)&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pendidikan kecakapan hidup (life skills) adalah pendidikan yang memberikan kecakapan personal, kecakapan sosial, kecakapan intelektual, dan kecakapan vokasional untuk bekerja atau usaha mandiri.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pendidikan kepemudaan adalah pendidikan yang diselenggarakan untuk mempersiapkan kader pemimpin bangsa, seperti organisasi pemuda, pendidikan kepanduan/kepramukaan, keolahragaan, palang merah, pelatihan, kepemimpinan, pecinta alam, serta kewirausahaan.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pendidikan pemberdayaan perempuan adalah pendidikan untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan. Pendidikan kesetaraan adalah program pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan umum setara SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA yang mencakup program paket A, paket B, dan paket C.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pendidikan dan pelatihan kerja dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dengan penekanan pada penguasaan keterampilan fungsional yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (4) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (5) Kursus dan pelatihan sebagai bentuk pendidikan berkelanjutan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dengan penekanan pada penguasaan keterampilan, standar kompetensi, pengembangan sikap kewirausahaan serta pengembangan kepribadian profesional. Kursus dan pelatihan dikembangkan melalui sertifikasi dan akreditasi yang bertaraf nasional dan internasional.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (6) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (7) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 27&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 28&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (1) Pendidikan anak usia dini diselenggarakan bagi anak sejak lahir sampai dengan enam tahun dan bukan merupakan prasyarat untuk mengikuti pendidikan dasar.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (2) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (3) Taman kanak-kanak (TK) menyelenggarakan pendidikan untuk mengembangkan kepribadian dan potensi diri sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik. Raudhatul athfal (RA) menyelenggarakan pendidikan keagamaan Islam yang menanamkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi diri seperti pada taman kanak-kanak.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (4) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (5) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (6) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 29&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 30&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 31&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (1) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (2) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (3) Bentuk pendidikan jarak jauh mencakup program pendidikan tertulis (korespondensi), radio, audio/video, TV, dan/atau berbasis jaringan komputer. Modus penyelenggaraan pendidikan jarak jauh mencakup pengorganisasian tunggal (single mode), atau bersama tatap muka (dual mode). Cakupan pendidikan jarak jauh dapat berupa program pendidikan berbasis mata pelajaran/mata kuliah dan/atau program pendidikan berbasis bidang studi.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (4) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 32&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 33&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (1) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (2) Pengajaran bahasa daerah pada jenjang pendidikan dasar di suatu daerah disesuaikan dengan intensitas penggunaannya dalam wilayah yang bersangkutan. Tahap awal pendidikan adalah pendidikan pada tahun pertama dan kedua sekolah dasar.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (3) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 34&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 35&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (1)&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Standar isi mencakup ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan ke dalam persyaratan tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati. Standar tenaga kependidikan mencakup persyaratan pendidikan prajabatan dan kelayakan, baik fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Standar sarana dan prasarana pendidikan mencakup ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, dan sumber belajar lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Peningkatan secara berencana dan berkala dimaksudkan untuk meningkatkan keunggulan lokal, kepentingan nasional, keadilan, dan kompetisi antarbangsa dalam peradaban dunia.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (2) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (3) Badan standardisasi, penjaminan, dan pengendalian mutu pendidikan bersifat mandiri&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;pada tingkat nasional dan propinsi.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (4) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 36&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (1) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (2) Pengembangan kurikulum secara berdiversifikasi dimaksudkan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan pada satuan pendidikan dengan kondisi dan kekhasan potensi yang ada di daerah.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (3) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (4) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 37&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (1)&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pendidikan agama dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pendidikan kewarganegaraan dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Bahan kajian bahasa mencakup bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing dengan pertimbangan:&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;1. Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;2. Bahasa daerah merupakan bahasa ibu peserta didik; dan&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;3. Bahasa asing terutama bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yangsangat penting kegunaannya dalam pergaulan global.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Bahan kajian matematika, antara lain, berhitung, ilmu ukur, dan aljabar dimaksudkan untuk mengembangkan logika dan kemampuan berpikir peserta didik.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Bahan kajian ilmu pengetahuan alam, antara lain, fisika, biologi, dan kimia dimaksudkan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis peserta didik terhadap lingkungan alam dan sekitarnya.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Bahan kajian ilmu pengetahuan sosial, antara lain, ilmu bumi, sejarah, ekonomi, kesehatan, dan sebagainya dimaksudkan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis peserta didik terhadap kondisi sosial masyarakat.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Bahan kajian seni dan budaya dimaksudkan untuk membentuk karakter peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa seni dan pemahaman budaya. Bahan kajian seni mencakup menulis, menggambar/melukis, menyanyi, dan menari.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Bahan kajian pendidikan jasmani dan olah raga dimaksudkan untuk membentuk karakter peserta didik agar sehat jasmani dan rohani, dan menumbuhkan rasa sportivitas.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Bahan kajian keterampilan dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki keterampilan. Bahan kajian muatan lokal dimaksudkan untuk membentuk pemahaman terhadap potensi di daerah tempat tinggalnya.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (2) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (3) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 38&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 39&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (1) Tenaga kependidikan meliputi pengelola satuan pendidikan, penilik, pamong belajar, pengawas, peneliti, pengembang, pustakawan, laboran, dan teknisi sumber belajar.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (2) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 40&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (1) huruf a Yang dimaksud dengan penghasilan yang pantas dan memadai adalah penghasilan yang mencerminkan martabat guru sebagai pendidik yang profesional di atas kebutuhan hidup minimum (KHM). Yang dimaksud dengan jaminan kesejahteraan sosial yang pantas dan memadai, antara lain, jaminan kesehatan dan jaminan hari tua.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;huruf b Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;huruf c Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;huruf d Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;huruf e Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (2) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 41&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (1) Pendidik dan tenaga kependidikan dapat bertugas di mana pun dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan tetap memperhatikan peraturan perundang¬undangan yang berlaku.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (2) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (3) Pemberian fasilitas oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dimaksudkan untuk menghindari adanya daerah yang kekurangan atau kelebihan pendidik dan tenaga kependidikan, serta juga dimaksudkan untuk peningkatan kualitas satuan pendidikan.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (4) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 42&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 43&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (1) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (2) Program sertifikasi bertujuan untuk memenuhi kualifikasi minimum pendidik yang merupakan bagian dari program pengembangan karier oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (3) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 44&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 45&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 46&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (1)&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Sumber pendanaan pendidikan dari pemerintah meliputi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), dan sumber pendanaan pendidikan dari masyarakat mencakup antara lain sumbangan pendidikan, hibah, wakaf, zakat, pembayaran nadzar, pinjaman, sumbangan perusahaan, keringanan dan penghapusan pajak untuk pendidikan, dan lain-lain penerimaan yang sah.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (2) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (3) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 47&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 48&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 49&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (1) Pemenuhan pendanaan pendidikan dapat dilakukan secara bertahap.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (2) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (3) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (4) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (5) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 50&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (1) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (2) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (3) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (4) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (5) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (6) Yang dimaksud dengan otonomi perguruan tinggi adalah kemandirian perguruan tinggi untuk mengelola sendiri lembaganya.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (7) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 51&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (1) Yang dimaksud dengan manajemen berbasis sekolah/madrasah adalah bentuk otonomi manajemen pendidikan pada satuan pendidikan, yang dalam hal ini kepala sekolah/madrasah dan guru dibantu oleh komite sekolah/madrasah dalam mengelola kegiatan pendidikan.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (2) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (3) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 52&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 53&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (1) Badan hukum pendidikan dimaksudkan sebagai landasan hukum bagi penyelenggara dan/atau satuan pendidikan, antara lain, berbentuk badan hukum milik negara (BHMN).&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (2) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (3) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (4) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 54&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 55&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (1) Kekhasan satuan pendidikan yang diselenggarakan masyarakat tetap dihargai dan dijamin oleh undang-undang ini.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (2) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (3) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (4) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (5) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 56&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 57&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 58&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 59&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 60&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 61&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 62&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 63&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 64&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 65&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (1) Peraturan perundang-undangan yang dimaksud antara lain mencakup undang-undang tentang imigrasi, pajak, investasi asing, dan tenaga kerja.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (2) Pelaksanaan pendidikan agama sesuai dengan ketentuan Pasal 12 ayat (1) huruf a.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (3) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (4) Sistem pendidikan negara lain mencakup kurikulum, sistem penilaian, dan penjenjangan pendidikan.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (5) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 66&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (1) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (2) Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ayat (3) Peraturan pemerintah yang dimaksud dalam ayat ini, antara lain, mengatur tata cara pengawasan dan sanksi administratif.&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 67&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 68&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 69&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 70&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 71&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 72&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 73&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 74&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 75&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 76&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 77&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Cukup jelas&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Demikian penjelasan dari UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional , semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian !&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;</content:encoded>
			<link>https://smpkosgoro.do.am/blog/penjelasan_uu_sisdiknas_2003/2010-12-21-4</link>
			<dc:creator>kosgoro</dc:creator>
			<guid>https://smpkosgoro.do.am/blog/penjelasan_uu_sisdiknas_2003/2010-12-21-4</guid>
			<pubDate>Tue, 21 Dec 2010 10:08:41 GMT</pubDate>
		</item>
		<item>
			<title>SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN</title>
			<description>&lt;blockquote&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;PERATURAN&lt;br&gt;MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL&lt;br&gt;NOMOR 63 TAHUN 2009&lt;br&gt;TENTANG&lt;br&gt;SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN&lt;br&gt;DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA&lt;br&gt;MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;Menimbang : &lt;br&gt;&lt;br&gt;a. bahwa pendidikan nasional menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah,&lt;br&gt;pemerintah daerah, dan masyarakat dan oleh karena itu penjaminan mutu&lt;br&gt;pendidikan menjadi tanggung jawab bersama ketiga unsur tersebut;&lt;br&gt;&lt;br&gt;b. bahwa penjaminan mutu pendidikan perlu terus didorong dengan perangkat&lt;br&gt;peraturan perundang-undangan yang memberikan arah dalam pelaksanaannya;&lt;br&gt;&lt;br&gt;c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b, perlu&lt;br&gt;menetapkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional tentang Sistem Penjaminan&lt;br&gt;Mutu Pendidikan;&lt;br&gt;&lt;br&gt;Mengingat&lt;br&gt;&lt;br&gt;: 1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional&lt;br&gt;(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan&lt;br&gt;Lembaran Negara Republ...</description>
			<content:encoded>&lt;blockquote&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;PERATURAN&lt;br&gt;MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL&lt;br&gt;NOMOR 63 TAHUN 2009&lt;br&gt;TENTANG&lt;br&gt;SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN&lt;br&gt;DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA&lt;br&gt;MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;Menimbang : &lt;br&gt;&lt;br&gt;a. bahwa pendidikan nasional menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah,&lt;br&gt;pemerintah daerah, dan masyarakat dan oleh karena itu penjaminan mutu&lt;br&gt;pendidikan menjadi tanggung jawab bersama ketiga unsur tersebut;&lt;br&gt;&lt;br&gt;b. bahwa penjaminan mutu pendidikan perlu terus didorong dengan perangkat&lt;br&gt;peraturan perundang-undangan yang memberikan arah dalam pelaksanaannya;&lt;br&gt;&lt;br&gt;c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b, perlu&lt;br&gt;menetapkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional tentang Sistem Penjaminan&lt;br&gt;Mutu Pendidikan;&lt;br&gt;&lt;br&gt;Mengingat&lt;br&gt;&lt;br&gt;: 1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional&lt;br&gt;(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan&lt;br&gt;Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301);&lt;br&gt;&lt;br&gt;2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran&lt;br&gt;Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara&lt;br&gt;Republik Indonesia Nomor 4437);&lt;br&gt;&lt;br&gt;3. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Lembaran&lt;br&gt;Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara&lt;br&gt;Republik Indonesia Nomor 4586);&lt;br&gt;&lt;br&gt;4. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan (Lembaran Negara&lt;br&gt;Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 129, Tambahan Lembaran Negara Republik&lt;br&gt;Indonesia Nomor 4774);&lt;br&gt;&lt;br&gt;5. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (Lembaran&lt;br&gt;Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 166, Tambahan Lembaran Negara&lt;br&gt;Republik Indonesia Nomor 4916);&lt;br&gt;&lt;br&gt;6. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan&lt;br&gt;(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 10, Tambahan&lt;br&gt;Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4965);&lt;br&gt;&lt;br&gt;7. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran&lt;br&gt;Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara&lt;br&gt;Republik Indonesia Nomor 5038);&lt;br&gt;&lt;br&gt;8. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan&lt;br&gt;(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 41, Tambahan&lt;br&gt;Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4496);&lt;br&gt;&lt;br&gt;9. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan&lt;br&gt;Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan&lt;br&gt;Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia&lt;br&gt;Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor&lt;br&gt;4737);&lt;br&gt;&lt;br&gt;10. Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar (Lembaran&lt;br&gt;Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 90, Tambahan Lembaran Negara&lt;br&gt;Republik Indonesia Nomor 4863);&lt;br&gt;&lt;br&gt;11. Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan&lt;br&gt;(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 91, Tambahan&lt;br&gt;Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4864);&lt;br&gt;&lt;br&gt;12. Peraturan Pemerintah 74 Tahun 2008 tentang Guru (Lembaran Negara Republik&lt;br&gt;Indonesia Tahun 2008 Nomor 194, Tambahan Lembaran Negara Republik&lt;br&gt;Indonesia Nomor 4941);&lt;br&gt;&lt;br&gt;13. Peraturan Pemerintah 37 Tahun 2009 tentang Dosen (Lembaran Negara Republik&lt;br&gt;Indonesia Tahun 2009 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia&lt;br&gt;Nomor 5007);&lt;br&gt;&lt;br&gt;14. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi,&lt;br&gt;Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia&lt;br&gt;sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor&lt;br&gt;20 Tahun 2008;&lt;br&gt;&lt;br&gt;15. Keputusan Presiden Nomor 187/M Tahun 2004 mengenai Pembentukan Kabinet&lt;br&gt;Indonesia Bersatu, sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan&lt;br&gt;Keputusan Presiden Nomor 77/P Tahun 2007;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;MEMUTUSKAN:&lt;br&gt;&lt;/div&gt;Menetapkan:&lt;br&gt;&lt;br&gt;PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL TENTANG SISTEM PENJAMINAN&lt;br&gt;MUTU PENDIDIKAN.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;BAB I&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;KETENTUAN UMUM&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Bagian Kesatu&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Batasan Istilah&lt;br&gt;Pasal 1&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;Dalam peraturan menteri ini yang dimaksud dengan:&lt;br&gt;&lt;br&gt;1. Mutu pendidikan adalah tingkat kecerdasan kehidupan bangsa yang dapat diraih dari penerapan&lt;br&gt;Sistem Pendidikan Nasional.&lt;br&gt;&lt;br&gt;2. Penjaminan mutu pendidikan adalah kegiatan sistemik dan terpadu oleh satuan atau program&lt;br&gt;pendidikan, penyelenggara satuan atau program pendidikan, pemerintah daerah, Pemerintah, dan&lt;br&gt;masyarakat untuk menaikkan tingkat kecerdasan kehidupan bangsa melalui pendidikan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;3. Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan yang selanjutnya disebut SPMP adalah subsistem dari Sistem&lt;br&gt;Pendidikan Nasional yang fungsi utamanya meningkatkan mutu pendidikan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;4. Standar Pelayanan Minimal bidang pendidikan yang selanjutnya disebut SPM adalah jenis dan&lt;br&gt;tingkat pelayanan pendidikan minimal yang harus disediakan oleh satuan atau program pendidikan,&lt;br&gt;penyelenggara satuan atau program pendidikan, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten&lt;br&gt;atau kota sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang&lt;br&gt;Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan&lt;br&gt;Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota.&lt;br&gt;&lt;br&gt;5. Standar Nasional Pendidikan yang selanjutnya disebut SNP adalah sebagaimana diatur dalam&lt;br&gt;Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan peraturan&lt;br&gt;perundangan lain yang relevan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;6. Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan yang selanjutnya disebut LPMP adalah unit pelaksana&lt;br&gt;teknis Departemen Pendidikan Nasional sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan&lt;br&gt;Nasional Nomor 7 Tahun 2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Penjaminan Mutu&lt;br&gt;Pendidikan dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 66 Tahun 2008 tentang Organisasi&lt;br&gt;dan Tata Kerja Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Sumatera Barat, Lembaga Penjaminan&lt;br&gt;Mutu Pendidikan Jawa Tengah, dan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Sulawesi Selatan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;7. Balai Pengembangan Pendidikan Nonformal dan Informal yang selanjutnya disebut BPPNFI adalah&lt;br&gt;unit pelaksana teknis Departemen Pendidikan Nasional sebagaimana diatur dalam Peraturan&lt;br&gt;Menteri Pendidikan Nasional Nomor 28 Tahun 2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai&lt;br&gt;Pengembangan Pendidikan Nonformal dan Informal.&lt;br&gt;&lt;br&gt;8. Pusat Pengembangan Pendidikan Nonformal dan Informal yang selanjutnya P2PNFI adalah unit&lt;br&gt;pelaksana teknis Departemen Pendidikan Nasional sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri&lt;br&gt;Pendidikan Nasional Nomor 8 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Pusat&lt;br&gt;Pengembangan Pendidikan Nonformal dan Informal.&lt;br&gt;&lt;br&gt;9. Badan Standar Nasional Pendidikan yang selanjutnya disebut BSNP adalah sebagaimana diatur&lt;br&gt;dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;10. Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi yang selanjutnya disebut BAN-PT adalah&lt;br&gt;sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional&lt;br&gt;Pendidikan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;11. Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah yang selanjutnya disebut BAN-S/M adalah&lt;br&gt;sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional&lt;br&gt;Pendidikan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;12. Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Nonformal yang selanjutnya disebut BAN-PNF adalah&lt;br&gt;sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional&lt;br&gt;Pendidikan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;13. Badan akreditasi provinsi yang selanjutnya disebut BAP adalah sebagaimana diatur dalam&lt;br&gt;Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;14. Departemen adalah departemen yang menangani urusan pemerintahan dalam bidang pendidikan&lt;br&gt;nasional.&lt;br&gt;&lt;br&gt;15. Menteri adalah menteri yang menangani urusan pemerintahan dalam bidang pendidikan nasional.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Bagian Kedua&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Tujuan Penjaminan Mutu Pendidikan&lt;br&gt;Pasal 2&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;&lt;div align=&quot;left&quot;&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Tujuan akhir penjaminan mutu pendidikan adalah tingginya kecerdasan kehidupan manusia dan bangsa sebagaimana dicita-citakan oleh Pembukaan Undang-undang Dasar Negara RepublikIndonesia Tahun 1945 yang dicapai melalui penerapan SPMP.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tujuan antara penjaminan mutu pendidikan adalah terbangunnya SPMP termasuk:&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;a. terbangunnya budaya mutu pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal;&lt;br&gt;&lt;br&gt;b. pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas dan proporsional dalam penjaminan mutu pendidikan formal dan/atau nonformal pada satuan atau program pendidikan, penyelenggara satuan atau program pendidikan, pemerintah kabupaten atau kota, pemerintah provinsi, dan Pemerintah;&lt;br&gt;&lt;br&gt;c. ditetapkannya secara nasional acuan mutu dalam penjaminan mutu pendidikan formal&lt;br&gt;dan/atau nonformal;&lt;br&gt;&lt;br&gt;d. terpetakannya secara nasional mutu pendidikan formal dan nonformal yang dirinci menurut&lt;br&gt;provinsi, kabupaten atau kota, dan satuan atau program pendidikan;&lt;br&gt;&lt;br&gt;e. terbangunnya sistem informasi mutu pendidikan formal dan nonformal berbasis teknologi&lt;br&gt;informasi dan komunikasi yang andal, terpadu, dan tersambung yang menghubungkan satuan atau program pendidikan, penyelenggara satuan atau program pendidikan, pemerintah kabupaten atau kota, pemerintah provinsi, dan Pemerintah.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Bagian Ketiga&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Paradigma dan Prinsip Penjaminan Mutu Pendidikan&lt;br&gt;Pasal 3&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;(1) Penjaminan mutu pendidikan menganut paradigma:&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;pendidikan untuk semua yang bersifat inklusif dan tidak mendiskriminasi peserta didik atas dasar latar belakang apa pun;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;pembelajaran sepanjang hayat berpusat pada peserta didik yang memperlakukan, memfasilitasi, dan mendorong peserta didik menjadi insan pembelajar mandiri yang kreatif,inovatif, dan berkewirausahaan; dan&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;pendidikan untuk perkembangan, pengembangan, dan/atau pembangunan berkelanjutan (education for sustainable development), yaitu pendidikan yang mampu mengembangkan peserta didik menjadi rahmat bagi sekalian alam.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br&gt;(2) Penjaminan mutu pendidikan dilakukan atas dasar prinsip:&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;keberlanjutan;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;terencana dan sistematis, dengan kerangka waktu dan target-target capaian mutu yang jelas dan terukur dalam penjaminan mutu pendidikan formal dan nonformal;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;menghormati otonomi satuan pendidikan formal dan nonformal;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;memfasilitasi pembelajaran informal masyarakat berkelanjutan dengan regulasi negara yang seminimal mungkin;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;SPMP merupakan sistem terbuka yang terus disempurnakan secara berkelanjutan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br&gt;&lt;font color=&quot;#ff0000&quot;&gt;&lt;i&gt;Maaf belum di edit&lt;/i&gt;&lt;/font&gt;.................&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Bagian Keempat&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Cakupan Penjaminan Mutu Pendidikan&lt;br&gt;Pasal 4&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Tingginya kecerdasan kehidupan manusia dan bangsa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2&lt;/li&gt;&lt;li&gt;ayat (1) mengacu pada mutu kehidupan manusia dan bangsa Indonesia yang komprehensif dan seimbang yang mencakup sekurang-kurangnya:&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;a. mutu keimanan, ketakwaan, akhlak, budi pekerti, dan kepribadian;&lt;br&gt;&lt;br&gt;b. kompetensi intelektual, estetik, psikomotorik, kinestetik, vokasional, serta kompetensi&lt;br&gt;kemanusiaan lainnya sesuai dengan bakat, potensi, dan minat masing-masing;&lt;br&gt;&lt;br&gt;c. muatan dan tingkat kecanggihan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang mewarnai dan memfasilitasi kehidupan;&lt;br&gt;&lt;br&gt;d. kreativitas dan inovasi dalam menjalani kehidupan;&lt;br&gt;&lt;br&gt;e. tingkat kemandirian serta daya saing, dan&lt;br&gt;&lt;br&gt;f. kemampuan untuk menjamin keberlanjutan diri dan lingkungannya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Penjaminan mutu pendidikan meliputi:&lt;br&gt;&lt;br&gt;a. penjaminan mutu pendidikan formal;&lt;br&gt;b. penjaminan mutu pendidikan nonformal; dan&lt;br&gt;c. penjaminan mutu pendidikan informal.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Bagian Kelima&lt;br&gt;Pembagian Peran dalam Penjaminan Mutu Pendidikan&lt;br&gt;&lt;br&gt;Pasal 5&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Penjaminan mutu pendidikan formal dan nonformal dilaksanakan oleh satuan atau program pendidikan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Pasal 6&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Penyelenggara satuan atau program pendidikan wajib menyediakan sumber daya yang diperlukan untuk terlaksananya penjaminan mutu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penyelenggara satuan atau program pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;a. penyelenggara satuan atau program pendidikan masyarakat;&lt;br&gt;b. pemerintah kabupaten atau kota;&lt;br&gt;c. pemerintah provinsi;&lt;br&gt;d. Pemerintah.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol start=&quot;3&quot; type=&quot;1&quot;&gt;&lt;li&gt;Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d terdiri dari: Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Agama, dan kementerian/lembaga pemerintah lainnya penyelenggara satuan pendidikan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Pasal 7&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Penyelenggara satuan atau program pendidikan mensupervisi, mengawasi, dan dapat memberi fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan kepada satuan atau program pendidikan dalam penjaminan mutu pendidikan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemerintah kabupaten atau kota mensupervisi, mengawasi, mengevaluasi, dan dapat memberi bantuan, fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan kepada satuan atau program pendidikan sesuai kewenangannya dalam penjaminan mutu pendidikan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemerintah provinsi mensupervisi, mengawasi, mengevaluasi, dan dapat memberi bantuan, fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan kepada satuan atau program pendidikan sesuai kewenangannya dalam penjaminan mutu pendidikan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemerintah mensupervisi, mengawasi, mengevaluasi, dan dapat memberi bantuan, fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan kepada satuan atau program pendidikan sesuai kewenangannya dalam penjaminan mutu pendidikan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Pasal 8&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Pemerintah kabupaten atau kota wajib mensupervisi, mengawasi, dan mengevaluasi, serta dapat memberi fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan kepada penyelenggara satuan pendidikan sesuai kewenangannya berkaitan dengan penjaminan mutu satuan pendidikan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemerintah provinsi wajib mensupervisi, mengawasi, dan mengevaluasi, serta dapat memberi fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan kepada pemerintah kabupaten atau kota dan/atau penyelenggara satuan pendidikan sesuai kewenangannya berkaitan dengan penjaminan mutu satuan pendidikan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemerintah wajib mensupervisi, mengawasi, dan mengevaluasi, serta dapat memberi fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan kepada pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten atau kota, dan/atau penyelenggara satuan pendidikan sesuai kewenangannya berkaitan dengan penjaminan mutu satuan pendidikan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;BAB II&lt;br&gt;PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN INFORMAL&lt;br&gt;&lt;br&gt;Pasal 9&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Penjaminan mutu pendidikan informal dilaksanakan oleh masyarakat baik secara perseorangan, kelompok, maupun kelembagaan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penjaminan mutu pendidikan informal oleh masyarakat dapat dibantu dan/atau diberi kemudahan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;Bantuan dan/atau kemudahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berbentuk:&lt;br&gt;a. pendirian perpustakaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan;&lt;br&gt;b. penyediaan bahan pustaka pada Perpustakaan Nasional, perpustakaan daerah provinsi,&lt;br&gt;perpustakaan daerah kabupaten atau kota, perpustakaan kecamatan, perpustakaan desa,&lt;br&gt;dan/atau taman bacaan masyarakat (TBM);&lt;br&gt;c. pemberian bantuan dan/atau kemudahan pendirian dan/atau pengoperasian perpustakaan&lt;br&gt;milik masyarakat seperti perpustakaan di tempat ibadah;&lt;br&gt;d. pemberian kemudahan akses ke sumber belajar multi media di perpustakaan bukan satuan pendidikan formal dan nonformal.&lt;br&gt;e. pemberian bantuan dan/atau kemudahan pendirian dan/atau pengoperasian toko buku&lt;br&gt;kategori usaha kecil milik masyarakat di daerah yang belum memiliki toko buku atau jumlah&lt;br&gt;toko bukunya belum mencukupi kebutuhan;&lt;br&gt;f. kebijakan perbukuan nonteks yang mendorong harga buku nonteks terjangkau oleh rakyat banyak;&lt;br&gt;g. pemberian subsidi atau penghargaan kepada penulis buku nonteks dan nonjurnal-ilmiah yang berprestasi dalam pendidikan informal;&lt;br&gt;h. pemberian penghargaan kepada media masa yang berprestasi dalam menyiarkan atau&lt;br&gt;mempublikasikan materi pembelajaran informal kepada masyarakat;&lt;br&gt;i. pemberian penghargaan kepada anggota masyarakat yang berprestasi atau kreatif dalam menghasilkan film hiburan yang sarat pembelajaran informal;&lt;br&gt;j. pemberian penghargaan kepada tokoh masyarakat yang berprestasi atau kreatif dalam&lt;br&gt;pembelajaran informal masyarakat ;&lt;br&gt;k. pemberian penghargaan kepada anggota masyarakat yang sukses melakukan pembelajaran informal secara otodidaktif;&lt;br&gt;l. pemberian layanan ujian kesetaraan sesuai peraturan perundang-undangan; serta&lt;br&gt;m. kegiatan lain yang membantu dan/atau mempermudah pembelajaran informal oleh&lt;br&gt;masyarakat.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;BAB III&lt;br&gt;PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN FORMAL DAN NONFORMAL&lt;br&gt;&lt;br&gt;Bagian Kesatu&lt;br&gt;&lt;br&gt;Acuan Mutu Dalam Penjaminan Mutu Pendidikan&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Pasal 10&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Penjaminan mutu pendidikan oleh satuan atau program pendidikan ditujukan untuk memenuhi tiga tingkatan acuan mutu, yaitu:&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;a. SPM;&lt;br&gt;b. SNP; dan&lt;br&gt;c. Standar mutu pendidikan di atas SNP.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol start=&quot;2&quot; type=&quot;1&quot;&gt;&lt;li&gt;Standar mutu pendidikan di atas SNP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa:&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;a. Standar mutu di atas SNP yang berbasis keunggulan lokal&lt;br&gt;b. Standar mutu di atas SNP yang mengadopsi dan/atau mengadaptasi standar internasional tertentu.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Pasal 11&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;SPM berlaku untuk:&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;a. satuan atau program pendidikan;&lt;br&gt;b. penyelenggara satuan atau program pendidikan;&lt;br&gt;c. pemerintah kabupaten atau kota; dan&lt;br&gt;d. pemerintah provinsi.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol start=&quot;2&quot; type=&quot;1&quot;&gt;&lt;li&gt;SNP berlaku bagi satuan atau program pendidikan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;ol start=&quot;3&quot; type=&quot;1&quot;&gt;&lt;li&gt;Standar mutu di atas SNP berlaku bagi satuan atau program pendidikan yang telah memenuhi SPM dan SNP. Standar mutu di atas SNP yang berbasis keunggulan lokal dapat dirintis pemenuhannya oleh satuan pendidikan yang telah memenuhi SPM dan sedang dalam proses memenuhi SNP.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Pasal 12&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;SPM ditetapkan oleh Menteri.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;SNP ditetapkan oleh Menteri.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;Standar mutu di atas SNP dipilih oleh satuan atau program pendidikan sesuai prinsip otonomi satuan pendidikan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Pasal 13&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;SNP bagi satuan atau program pendidikan nonformal dirumuskan sedemikian rupa sehingga tidak menghilangkan atau mengurangi keluwesan dan kelenturan pendidikan nonformal dalam melayani pembelajaran peserta didik sesuai dengan3 kebutuhan, kondisi, dan problematika yang dihadapi masing-masing peserta didik.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;Acuan mutu satuan atau program pendidikan formal adalah:&lt;br&gt;a. SPM;&lt;br&gt;b. SNP; dan&lt;br&gt;c. Standar mutu di atas SNP yang dipilih satuan atau program pendidikan formal.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol start=&quot;2&quot; type=&quot;1&quot;&gt;&lt;li&gt;Acuan mutu satuan atau program pendidikan nonformal yang lulusannya ditujukan untukmendapatkan kesetaraan dengan pendidikan formal adalah:&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;a. SPM;&lt;br&gt;b. Standar Isi, Standar Proses, dan Standar Kompetensi Lulusan dalam SNP yang berlaku bagi satuan atau program pendidikan formal yang sederajat; dan&lt;br&gt;c. Standar mutu di atas SNP sebagaimana dimaksud pada huruf b.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol start=&quot;3&quot; type=&quot;1&quot;&gt;&lt;li&gt;Acuan mutu satuan atau program pendidikan nonformal yang lulusannya tidak ditujukan untuk mendapatkan kesetaraan dengan pendidikan formal adalah:&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;a. SPM;&lt;br&gt;b. SNP yang berlaku bagi satuan atau program studi pendidikan nonformal masing-masing; dan&lt;br&gt;c. Standar mutu di atas SNP sebagaimana dimaksud pada huruf b.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Bagian Kedua&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Kerangka Waktu Penjaminan Mutu Pendidikan&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Pasal 14&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;SPM harus dipenuhi oleh penyelenggara satuan pendidikan dalam rangka memperoleh izin definitif pendirian satuan pendidikan atau pembukaan program pendidikan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;SPM sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi oleh penyelenggara satuan atau program pendidikan paling lambat 2 (dua) tahun setelah satuan atau program pendidikan memperoleh izin prinsip untuk berdiri dan beroperasi.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Pasal 15&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;SPM yang berlaku bagi penyelenggara satuan pendidikan dipenuhi oleh penyelenggara satuan pendidikan dalam waktu paling lama 5 (lima) tahun sejak ditetapkannya SPM yang bersangkutan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;SPM yang berlaku bagi pemerintah kabupaten atau kota dipenuhi oleh pemerintah kabupaten atau kota dalam waktu paling lama 5 (lima) tahun sejak ditetapkannya SPM yang bersangkutan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;SPM yang berlaku bagi pemerintah provinsi dipenuhi oleh pemerintah provinsi dalam waktu paling lama 5 (lima) tahun sejak ditetapkannya SPM yang bersangkutan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Pasal 16&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;SNP dipenuhi oleh satuan atau program pendidikan dan penyelenggara satuan atau program pendidikan secara sistematis dan bertahap dalam kerangka jangka menengah yang ditetapkan dalam rencana strategis satuan atau program pendidikan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Standar mutu di atas SNP dipenuhi oleh satuan atau program pendidikan dan penyelenggara satuan atau program pendidikan secara sistematis dan bertahap dalam kerangka waktu yang ditetapkan dalam rencana strategis satuan atau program pendidikan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rencana Strategis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) menetapkan target-target terukur capaian mutu secara tahunan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Bagian Ketiga&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;Tanggung Jawab dan Koordinasi Pemenuhan Standar Mutu Pendidikan&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;&lt;br&gt;Pasal 17&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;Pemenuhan SPM menjadi tanggung jawab:&lt;br&gt;a. satuan atau program pendidikan formal atau nonformal;&lt;br&gt;b. penyelenggara satuan atau program pendidikan formal atau nonformal;&lt;br&gt;c. pemerintah kabupaten atau kota; dan&lt;br&gt;d. pemerintah provinsi.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Pasal 18&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Pemenuhan Standar Isi, Standar Proses, Standar Kompetensi Lulusan, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan, dan Standar Penilaian Pendidikan, masing-masing dalam SNP dan standar mutu di atas SNP, menjadi tanggung jawab satuan pendidikan formal.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemenuhan Standar Isi, Standar Proses, dan Standar Kompetensi Lulusan dalam SNP dan standar mutu di atas SNP menjadi tanggung jawab satuan atau program pendidikan nonformal yang lulusannya ditujukan untuk mendapatkan kesetaraan dengan pendidikan formal.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemenuhan SNP dan standar mutu di atas SNP menjadi tanggung jawab satuan atau program pendidikan nonformal yang lulusannya tidak ditujukan untuk mendapatkan kesetaraan dengan pendidikan formal.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;Penyediaan sumber daya untuk pemenuhan Standar sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat&lt;br&gt;(2), dan ayat (3), menjadi tanggung jawab penyelenggara satuan atau program pendidikan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Pasal 19&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Program koordinasi penjaminan mutu pendidikan secara nasional dituangkan dalam Rencana Strategis Pendidikan Nasional yang menetapkan target-target terukur capaian mutu pendidikan secara tahunan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Program koordinasi penjaminan mutu pendidikan pada tingkat provinsi dituangkan dalam rencana strategis pendidikan provinsi yang menetapkan target-target terukur capaian mutu pendidikan secara tahunan dan sejalan dengan Rencana Strategis Pendidikan Nasional.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Program koordinasi penjaminan mutu pendidikan pada tingkat kabupaten atau kota dituangkan dalam rencana strategis pendidikan kabupaten atau kota yang menetapkan target-target terukur capaian mutu pendidikan secara tahunan dan sejalan dengan Rencana Strategis Pendidikan Provinsi dan Rencana Strategis Pendidikan Nasional.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Program koordinasi penjaminan mutu pendidikan pada tingkat penyelenggara satuan atau&lt;/li&gt;&lt;li&gt;program pendidikan dituangkan dalam rencana strategis penyelenggara satuan atau program pendidikan yang menetapkan target-target terukur capaian mutu pendidikan secara tahunan dan sejalan dengan Rencana Strategis Pendidikan Kabupaten atau Kota yang bersangkutan,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rencana Strategis Pendidikan Provinsi yang bersangkutan , dan Rencana Strategis Pendidikan Nasional.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Program penjaminan mutu pendidikan oleh satuan atau program pendidikan dituangkan dalam rencana strategis satuan atau program pendidikan yang menetapkan target-target terukur capaian mutu pendidikan secara tahunan dan sejalan dengan Rencana Strategis Pendidikan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penyelenggara satuan atau program pendidikan yang bersangkutan, Rencana Strategis&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pendidikan Kabupaten atau Kota yang bersangkutan, Rencana Strategis Pendidikan Provinsi yang bersangkutan, dan Rencana Strategis Pendidikan Nasional.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Bagian Keempat&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Jenis Kegiatan Penjaminan Mutu Pendidikan&lt;br&gt;&lt;br&gt;Pasal 20&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Kegiatan penjaminan mutu pendidikan formal dan nonformal terdiri atas:&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;a. penetapan regulasi penjaminan mutu pendidikan oleh Pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten atau kota berdasarkan peraturan perundang-undangan;&lt;br&gt;b. penetapan SPM;&lt;br&gt;c. penetapan SNP;&lt;br&gt;d. penetapan prosedur operasional standar (POS) penjaminan mutu pendidikan oleh&lt;br&gt;penyelenggara satuan pendidikan atau penyelenggara program pendidikan;&lt;br&gt;e. penetapan prosedur operasional standar (POS) penjaminan mutu tingkat satuan pendidikan oleh satuan atau program pendidikan;&lt;br&gt;f. pemenuhan standar mutu acuan oleh satuan atau program pendidikan;&lt;br&gt;g. penyusunan kurikulum oleh satuan pendidikan sesuai dengan acuan mutu;&lt;br&gt;h. penyediaan sumber daya oleh penyelenggara satuan atau program pendidikan;&lt;br&gt;i. pemberian bantuan, fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan oleh Pemerintah;&lt;br&gt;j. pemberian bantuan, fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan oleh pemerintah provinsi;&lt;br&gt;k. pemberian bantuan, fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan oleh pemerintah kabupaten atau kota;&lt;br&gt;l. pemberian bantuan, fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan oleh penyelenggara satuan atau program pendidikan;&lt;br&gt;m. pemberian bantuan dan/atau saran oleh masyarakat;&lt;br&gt;n. supervisi dan/atau pengawasan oleh Pemerintah;&lt;br&gt;o. supervisi dan/atau pengawasan oleh pemerintah provinsi;&lt;br&gt;supervisi dan/atau pengawasan oleh pemerintah kabupaten atau kota;&lt;br&gt;supervisi dan/atau pengawasan oleh penyelenggara satuan atau program pendidikan;&lt;br&gt;pengawasan oleh masyarakat ;&lt;br&gt;pengukuran ketercapaian standar mutu acuan; dan&lt;br&gt;evaluasi dan pemetaan mutu satuan atau program pendidikan oleh Pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten atau kota.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol start=&quot;2&quot; type=&quot;1&quot;&gt;&lt;li&gt;Pengukuran ketercapaian standar mutu acuan dilakukan melalui:&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;a. audit kinerja;&lt;br&gt;b. akreditasi;&lt;br&gt;c. sertifikasi; atau&lt;br&gt;d. bentuk lain pengukuran capaian mutu pendidikan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Bagian Kelima&lt;br&gt;&lt;br&gt;Tanggung Jawab Menteri Dalam Penjaminan Mutu Pendidikan&lt;br&gt;&lt;br&gt;Pasal 21&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Menteri menetapkan regulasi nasional penjaminan mutu pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menteri menetapkan SPM yang berlaku bagi satuan atau program pendidikan, penyelenggara&lt;/li&gt;&lt;li&gt;satuan atau program pendidikan, pemerintah kabupaten atau kota, dan pemerintah provinsi;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menteri menetapkan SNP yang berlaku bagi satuan atau program pendidikan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menteri menetapkan program koordinasi penjaminan mutu pendidikan secara nasional dalam Rencana Strategis Pendidikan Nasional.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menteri melakukan evaluasi pelaksanaan penjaminan mutu pendidikan secara nasional dan dampaknya pada peningkatan kecerdasan kehidupan bangsa.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Pasal 22&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Menteri memetakan secara nasional pemenuhan SPM oleh satuan pendidikan, penyelenggara satuan atau program pendidikan, pemerintah kabupaten atau kota, dan pemerintah provinsi melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dalam pemetaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang menyangkut satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah, Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen bekerjasama dengan LPMP, P2PNFI, BPPNFI, Departemen Agama, dan Kementerian/Lembaga pemerintah lainnya penyelenggara satuan pendidikan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Pasal 23&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Menteri memetakan secara nasional pemenuhan SNP oleh satuan atau program pendidikan melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dalam pemetaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang menyangkut satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah, Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen bekerjasama dengan LPMP, P2PNFI, BPPNFI, dan Departemen Agama, dan Kementerian/Lembaga pemerintah lainnya penyelenggara satuan pendidikan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Pasal 24&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Menteri menyelenggarakan Ujian Nasional pendidikan dasar dan pendidikan menengah melalui BSNP sesuai dengan peraturan perundang-undangan untuk mengukur ketercapaian Standar Kompetensi Lulusan pendidikan formal dan nonformal kesetaraan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menteri melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen, memetakan capaian nilai Ujian Nasional dan tingkat kejujuran pelaksanaan ujian nasional menurut:&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;a. satuan pendidikan;&lt;br&gt;b. kabupaten atau kota;&lt;br&gt;c. provinsi; dan&lt;br&gt;d. nasional.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Pasal 25&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Menteri mengakreditasi satuan atau program pendidikan melalui BAN-S/M, BAN-PT, dan BAN- PNF.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Atas dasar akreditasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan peta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22, Pasal 23, dan Pasal 24, Menteri melalui Badan Penelitian dan &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pengembangan Departemen memetakan secara nasional dan komprehensif mutu satuan atau program pendidikan formal dan nonformal menurut:&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;a. satuan atau program pendidikan;&lt;br&gt;b. kabupaten atau kota; dan&lt;br&gt;c. provinsi;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol start=&quot;4&quot; type=&quot;1&quot;&gt;&lt;li&gt;Peta sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikembangkan sedemikian rupa sehingga merefleksikan:&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;a. capaian mutu pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4; dan&lt;br&gt;b. kualitas pelaksanaan pendidikan untuk perkembangan, pengembangan, dan/atau&lt;br&gt;pembangunan berkelanjutan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Bagian Keenam&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Tanggung Jawab Departemen, Departemen Agama, dan&lt;br&gt;Kementerian/Lembaga Pemerintah Lainnya&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Penyelenggara Satuan Pendidikan Formal Dalam Penjaminan Mutu Pendidikan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pasal 26&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Departemen, Departemen Agama, dan kementerian/lembaga pemerintah lainnya penyelenggara satuan pendidikan menetapkan regulasi teknis penjaminan mutu pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan kewenangan masing-masing.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keterlibatan Departemen, Departemen Agama, dan kementerian/lembaga pemerintah lainnya penyelenggara satuan pendidikan dalam penjaminan mutu satuan pendidikan menjunjung tinggi prinsip otonomi satuan pendidikan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;&lt;br&gt;Pasal 27&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Supervisi, pengawasan, evaluasi, dan pemberian fasilitasi, saran, arahan, bimbingan, dan/atau bantuan oleh Departemen kepada satuan atau program pendidikan dilaksanakan oleh unit kerja terkait sesuai peraturan perundang-undangan. Inspektorat Jenderal Departemen melakukan audit kinerja terhadap:&lt;br&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;a. Kantor Pusat Unit Utama Departemen;&lt;br&gt;b. LPMP;&lt;br&gt;c. P2PNFI;&lt;br&gt;d. BPPNFI;&lt;br&gt;e. BSNP;&lt;br&gt;f. BAN-PT;&lt;br&gt;g. BAN-S/M; dan&lt;br&gt;h. BAN-PNF,&lt;br&gt;terkait keterlibatan masing-masing dalam penjaminan mutu pendidikan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol start=&quot;2&quot; type=&quot;1&quot;&gt;&lt;li&gt;Departemen mengembangkan sistem informasi nasional mutu pendidikan formal dan nonformal berbasis teknologi informasi dan komunikasi yang andal, terpadu, dan dalam jejaring yang menghubungkan:&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;a. satuan atau program pendidikan;&lt;br&gt;b. pemerintah kabupaten atau kota;&lt;br&gt;c. pemerintah provinsi;&lt;br&gt;d. Departemen Agama; dan&lt;br&gt;e. kementerian/lembaga pemerintah lain penyelenggara satuan pendidikan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol start=&quot;3&quot; type=&quot;1&quot;&gt;&lt;li&gt;Untuk menjamin interoperabilitas sistem informasi, Menteri menetapkan standar sistem informasi mutu pendidikan yang mengikat semua satuan atau program pendidikan, penyelenggara satuan atau program pendidikan, pemerintah kabupaten atau kota, pemerintah provinsi, Departemen, Departemen Agama, dan kementerian/lembaga pemerintah lain penyelenggara satuan pendidikan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Pasal 28&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Supervisi, pengawasan, evaluasi, serta pemberian bantuan, fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan oleh Departemen Agama kepada satuan atau program pendidikan dilaksanakan oleh unit kerja terkait sesuai peraturan perundang-undangan.Inspektorat Jenderal Departemen Agama melakukan audit kinerja terhadap :&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;a. unit kerja di Departemen Agama yang terkait dengan penjaminan mutu pendidikan;&lt;br&gt;b. kantor wilayah Departemen Agama; dan&lt;br&gt;c. kantor Departemen Agama Kabupaten atau Kota.terkait keterlibatan masing-masing dalam penjaminan mutu pendidikan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol start=&quot;2&quot; type=&quot;1&quot;&gt;&lt;li&gt;Departemen Agama mengembangkan sistem informasi nasional mutu pendidikan formal dan nonformal agama dan keagamaan berbasis teknologi informasi dan komunikasi yang andal, terpadu, dan dalam jejaring yang menghubungkan:&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;a. satuan atau program pendidikan; dan&lt;br&gt;b. Departemen.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol start=&quot;3&quot; type=&quot;1&quot;&gt;&lt;li&gt;Sistem informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kompatibel dan memiliki interoperabilitas dengan sistem informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3) dan ayat (4).&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Pasal 29&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Supervisi, pengawasan, evaluasi, serta pemberian bantuan, fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan oleh kementerian/lembaga lain penyelenggara satuan pendidikan kepada satuan atau program pendidikan dilaksanakan sesuai peraturan perundang-undangan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Inspektorat Jenderal atau Inspektorat Utama kementerian/lembaga pemerintah lainnya penyelenggara satuan pendidikan melakukan audit kinerja terhadap unit kerjanya yang terlibat dalam penjaminan mutu pendidikan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kementerian/lembaga lain penyelenggara satuan pendidikan formal mengembangkan sistem informasi mutu satuan pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi yang andal, terpadu, dan dalam jejaring yang menghubungkan:&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;a. satuan pendidikan; dan&lt;br&gt;b. Departemen.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol start=&quot;4&quot; type=&quot;1&quot;&gt;&lt;li&gt;Sistem informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kompatibel dan memiliki interoperabilitas dengan sistem informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3) dan ayat (4).&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Pasal 30&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;Departemen, Departemen Agama, dan kementerian/lembaga pemerintah lainnya penyelenggara satuan pendidikan menyediakan biaya akreditasi satuan atau program pendidikan formal atau nonformal sesuai kewenangannya masing-masing.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Pasal 31&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;Departemen, Departemen Agama, dan kementerian/lembaga pemerintah lainnya penyelenggara satuan pendidikan berkewajiban mendukung sepenuhnya pemetaan mutu satuan atau program pendidikan yang dilakukan oleh Menteri.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Bagian Ketujuh&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;Tanggung Jawab Pemerintah Provinsi Dalam Penjaminan Mutu Pendidikan&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Pasal 32&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Pemerintah provinsi menetapkan regulasi penjaminan mutu pendidikan sesuai dengan kewenangannya dan peraturan perundang-undangan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keterlibatan pemerintah provinsi dalam penjaminan mutu satuan atau program pendidikan menjunjung tinggi prinsip otonomi satuan pendidikan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Pasal 33&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Supervisi, pengawasan, evaluasi, serta pemberian bantuan, fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan oleh pemerintah provinsi kepada satuan atau program pendidikan formal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dilakukan bekerjasama dan berkoordinasi dengan LPMP.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Supervisi, pengawasan, evaluasi, serta pemberian bantuan, fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan oleh pemerintah provinsi kepada satuan atau program pendidikan nonformal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dilakukan bekerjasama dan berkoordinasi dengan P2PNFI atau BPPNFI.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Supervisi, pengawasan, evaluasi, serta pemberian bantuan, fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan oleh pemerintah provinsi kepada satuan atau program pendidikan memperhatikan pertimbangan dari dewan pendidikan provinsi, BAN-S/M, dan/atau BAN-PNF.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Inspektorat provinsi melakukan audit kinerja terhadap unit pelaksana teknis daerah yang terlibat dalam penjaminan mutu pendidikan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemerintah provinsi melalui BAP membantu BAN-S/M dalam pelaksanakan akreditasi satuan pendidikan formal di provinsi yang bersangkutan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemerintah provinsi membantu BSNP dalam pelaksanakan Ujian Nasional di wilayahnya dengan penuh kejujuran sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemerintah provinsi mengembangkan sistem informasi mutu pendidikan formal dan nonformal berbasis teknologi informasi dan komunikasi yang andal, terpadu, dan dalam jejaring yang menghubungkan:&lt;/li&gt;&lt;li&gt;satuan atau program pendidikan;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;b. pemerintah kabupaten atau kota; dan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;c. Departemen.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sistem informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (7) kompatibel dan memiliki interoperabilitas dengan sistem informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3) dan ayat (4).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dalam pengembangan sistem informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (7) pemerintah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;provinsi dapat bekerjasama dengan LPMP dan P2PNFI, atau BPPNFI.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Pasal 34&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;Pemerintah provinsi berkewajiban mendukung sepenuhnya pemetaan mutu satuan atau program pendidikan yang dilakukan oleh Menteri.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Bagian Kedelapan&lt;br&gt;&lt;br&gt;Tanggung Jawab Pemerintah Kabupaten atau Kota Dalam Penjaminan Mutu Pendidikan&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;&lt;br&gt;Pasal 35&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;Pemerintah kabupaten atau kota menetapkan regulasi penjaminan mutu pendidikan sesuai&lt;br&gt;dengan kewenangannya dan peraturan perundang-undangan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Keterlibatan pemerintah kabupaten atau kota dalam penjaminan mutu satuan atau program pendidikan menjunjung tinggi prinsip otonomi satuan pendidikan&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Pasal 36&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;Supervisi, pengawasan, evaluasi, serta pemberian bantuan, fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan oleh pemerintah kabupaten atau kota kepada satuan atau program pendidikan formal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) dilakukan dengan mengikuti arahan dan binaan pemerintah provinsi dan LPMP.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Supervisi, pengawasan, evaluasi, serta pemberian bantuan, fasilitasi, saran, arahan, dan/atau&lt;br&gt;bimbingan oleh pemerintah kabupaten atau kota kepada satuan atau program pendidikan&lt;br&gt;nonformal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) dilakukan dengan mengikuti arahan&lt;br&gt;dan binaan pemerintah provinsi dan P2PNFI atau BPPNFI.&lt;br&gt;Supervisi, pengawasan, evaluasi, serta pemberian bantuan, fasilitasi, saran, arahan, dan/atau&lt;br&gt;bimbingan oleh pemerintah kabupaten atau kota kepada satuan atau program pendidikan&lt;br&gt;memperhatikan pertimbangan dari dewan pendidikan kabupaten atau kota.&lt;br&gt;Inspektorat kabupaten atau kota melakukan audit kinerja terhadap unit pelaksana teknis daerah&lt;br&gt;yang terlibat dalam penjaminan mutu pendidikan.&lt;br&gt;Pemerintah kabupaten atau kota membantu BSNP dalam pelaksanakan Ujian Nasional di&lt;br&gt;wilayahnya dengan penuh kejujuran sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br&gt;Pemerintah kabupaten atau kota mengembangkan sistem informasi mutu pendidikan formal dan&lt;br&gt;nonformal berbasis teknologi informasi dan komunikasi yang andal, terpadu, dan dalam jejaring&lt;br&gt;yang menghubungkan:&lt;br&gt;a. satuan atau program pendidikan;&lt;br&gt;b. pemerintah provinsi; dan&lt;br&gt;c. Departemen.&lt;br&gt;Sistem informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (6) kompatibel dan memiliki interoperabilitas&lt;br&gt;dengan sistem informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3) dan ayat (4).&lt;br&gt;Dalam pengembangan sistem informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (6) pemerintah&lt;br&gt;kabupaten atau kota dapat bekerjasama dengan LPMP dan P2PNFI atau BPPNFI.&lt;br&gt;Pasal 37&lt;br&gt;Pemerintah kabupaten atau kota berkewajiban mendukung sepenuhnya pemetaan mutu satuan atau&lt;br&gt;program pendidikan yang dilakukan oleh Menteri.&lt;br&gt;Bagian Kesembilan&lt;br&gt;Tanggung Jawab Penyelenggara Satuan Pendidikan atau Program Pendidikan Dalam Penjaminan&lt;br&gt;Mutu Pendidikan&lt;br&gt;Pasal 38&lt;br&gt;(1)&lt;br&gt;(2)&lt;br&gt;(3)&lt;br&gt;Supervisi, pengawasan, evaluasi, serta pemberian bantuan, fasilitasi, saran, arahan, dan/atau&lt;br&gt;bimbingan oleh penyelenggara satuan pendidikan kepada satuan pendidikan menjunjung tinggi&lt;br&gt;prinsip otonomi satuan pendidikan.&lt;br&gt;Penyelenggara satuan atau program pendidikan menetapkan prosedur operasional standar (POS)&lt;br&gt;untuk memenuhi Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan,&lt;br&gt;dan Standar Pembiayaan yang ditetapkan Menteri dalam SNP.&lt;br&gt;Penyelenggara satuan atau program pendidikan yang telah memenuhi SPM dan SNP&lt;br&gt;menetapkan prosedur operasional standar (POS) untuk memenuhi Standar Sarana dan&lt;br&gt;Prasarana, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, dan Standar Pembiayaan di atas SNP&lt;br&gt;yang dipilih oleh satuan atau program pendidikan yang diselenggarakannya.&lt;br&gt;17&lt;br&gt;Pasal 39&lt;br&gt;Penyelenggara satuan atau program pendidikan formal menyediakan sumberdaya yang diperlukan&lt;br&gt;satuan pendidikan yang diselenggarakannya untuk memenuhi Standar Sarana dan Prasarana,&lt;br&gt;Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, dan Standar Pembiayaan.&lt;br&gt;Bagian Kesepuluh&lt;br&gt;Penjaminan Mutu Pendidikan Oleh Satuan Pendidikan atau Program Pendidikan&lt;br&gt;Pasal 40&lt;br&gt;(1)&lt;br&gt;(2)&lt;br&gt;(3)&lt;br&gt;(4)&lt;br&gt;(5)&lt;br&gt;(6)&lt;br&gt;Penjaminan mutu oleh satuan atau program pendidikan menjadi tanggung jawab satuan atau&lt;br&gt;program pendidikan dan wajib didukung oleh seluruh pemangku kepentingan satuan atau&lt;br&gt;program pendidikan.&lt;br&gt;Penjaminan mutu oleh satuan atau program pendidikan dipimpin oleh pemimpin satuan atau&lt;br&gt;program pendidikan.&lt;br&gt;Komite sekolah/madrasah memberi bantuan sumberdaya, pertimbangan, arahan, dan mengawasi&lt;br&gt;sesuai kewenangannya terhadap penjaminan mutu oleh satuan pendidikan.&lt;br&gt;Penjaminan mutu oleh satuan pendidikan dilaksanakan sesuai prinsip otonomi satuan pendidikan&lt;br&gt;untuk mendorong tumbuhnya budaya kreativitas, inovasi, kemandirian, kewirausahaan, dan&lt;br&gt;akuntabilitas.&lt;br&gt;Penjaminan mutu oleh satuan pendidikan tinggi dilaksanakan sesuai prinsip otonomi keilmuan.&lt;br&gt;Satuan atau program pendidikan menetapkan prosedur operasional standar (POS) penjaminan&lt;br&gt;mutu satuan atau program pendidikan.&lt;br&gt;Pasal 41&lt;br&gt;Penjaminan mutu oleh satuan atau program pendidikan ditujukan untuk:&lt;br&gt;a. memenuhi SPM dalam waktu paling lambat 2 (dua) tahun sejak ditetapkannya izin prinsip&lt;br&gt;pendirian/pembukaan dan operasi satuan atau program pendidikan;&lt;br&gt;b. secara bertahap dalam kerangka jangka menengah yang ditetapkan dalam rencana strategis&lt;br&gt;satuan atau program pendidikan memenuhi SNP;&lt;br&gt;c. secara bertahap satuan atau program pendidikan yang telah memenuhi SPM dan SNP dalam&lt;br&gt;kerangka jangka menengah yang ditetapkan dalam rencana strategis satuan pendidikan&lt;br&gt;memenuhi standar mutu di atas SNP yang dipilihnya.&lt;br&gt;Pasal 42&lt;br&gt;Semua satuan atau program pendidikan wajib melayani audit kinerja penjaminan mutu yang dilakukan&lt;br&gt;oleh Pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten atau kota sesuai kewenangannya.&lt;br&gt;Pasal 43&lt;br&gt;Semua satuan atau program pendidikan wajib mengikuti akreditasi yang diselenggarakan oleh BAN-&lt;br&gt;S/M, BAN-PT, atau BAN-PNF sesuai kewenangan masing-masing.&lt;br&gt;18&lt;br&gt;Pasal 44&lt;br&gt;Satuan atau program pendidikan dapat mengikuti sertifikasi mutu pendidikan untuk:&lt;br&gt;a. lembaganya;&lt;br&gt;b. pendidik atau tenaga kependidikannya; dan/atau&lt;br&gt;c. peserta didiknya.&lt;br&gt;Pasal 45&lt;br&gt;(1)&lt;br&gt;(2)&lt;br&gt;Satuan atau program pendidikan mengembangkan sistem informasi mutu pendidikan berbasis&lt;br&gt;teknologi informasi dan komunikasi yang andal, terpadu, dan dalam jejaring yang&lt;br&gt;menghubungkan:&lt;br&gt;a. penyelenggara satuan pendidikan;&lt;br&gt;b. pemerintah kabupaten atau kota yang bersangkutan;&lt;br&gt;c. pemerintah provinsi yang bersangkutan;&lt;br&gt;d. Departemen Agama, bagi satuan atau program pendidikan agama dan keagamaan;&lt;br&gt;e. kementerian/lembaga lain penyelenggara satuan atau program pendidikan; dan&lt;br&gt;f. Departemen.&lt;br&gt;Sistem informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kompatibel dan memiliki interoperabilitas&lt;br&gt;dengan sistem informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3) dan ayat (4).&lt;br&gt;Pasal 46&lt;br&gt;Satuan atau program pendidikan berkewajiban mendukung sepenuhnya pemetaan mutu satuan atau&lt;br&gt;program pendidikan yang dilakukan oleh Menteri.&lt;br&gt;BAB IV&lt;br&gt;SANKSI&lt;br&gt;Pasal 47&lt;br&gt;(1)&lt;br&gt;(2)&lt;br&gt;Pimpinan satuan atau program pendidikan yang melanggar peraturan ini disanksi sesuai dengan&lt;br&gt;peraturan perundang-undangan.&lt;br&gt;Pejabat atau fungsionaris penyelenggara satuan atau program pendidikan yang melanggar&lt;br&gt;peraturan ini disanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br&gt;BAB V&lt;br&gt;KETENTUAN PENUTUP&lt;br&gt;Pasal 48&lt;br&gt;Semua peraturan yang terkait dengan penjaminan mutu pendidikan dinyatakan masih tetap berlaku&lt;br&gt;sepanjang tidak bertentangan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Menteri ini.&lt;br&gt;19&lt;br&gt;Pasal 49&lt;br&gt;Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.&lt;br&gt;Ditetapkan di Jakarta&lt;br&gt;pada tanggal 25 September 2009&lt;br&gt;MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,&lt;br&gt;TTD.&lt;br&gt;BAMBANG SUDIBYO&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;</content:encoded>
			<link>https://smpkosgoro.do.am/blog/sistem_penjaminan_mutu_pendidikan/2010-12-20-6</link>
			<dc:creator>kosgoro</dc:creator>
			<guid>https://smpkosgoro.do.am/blog/sistem_penjaminan_mutu_pendidikan/2010-12-20-6</guid>
			<pubDate>Mon, 20 Dec 2010 12:12:03 GMT</pubDate>
		</item>
		<item>
			<title>PARADIGMA BARU PENDIDIKAN NASIONAL</title>
			<description>&lt;blockquote&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;Dalam
 upaya meningkatkan mutu sumber daya manusia, mengejar ketertinggalan di
 segala aspek kehidupan dan menyesuaikan dengan perubahan global serta 
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bangsa Indonesia melalui 
DPR dan Presiden pada tanggal 11 Juni 2003 telah mensahkan Undang-undang
 Sistem Pendidikan Nasional yang baru, sebagai pengganti Undang-undang 
Sisdiknas Nomor 2 Tahun 1989. Undang-undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 
2003 yang terdiri dari 22 Bab dan 77 pasal tersebut juga merupakan 
pengejawantahan dari salah satu tuntutan reformasi yang marak sejak 
tahun 1998. Perubahan mendasar yang dicanangkan dalam Undang-undang 
Sisdiknas yang baru tersebut antara lain adalah demokratisasi dan 
desentralisasi pendidikan, peran serta masyarakat, tantangan 
globalisasi, kesetaraan dan keseimbangan, jalur pendidikan, dan peserta 
didik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; st...</description>
			<content:encoded>&lt;blockquote&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;Dalam
 upaya meningkatkan mutu sumber daya manusia, mengejar ketertinggalan di
 segala aspek kehidupan dan menyesuaikan dengan perubahan global serta 
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bangsa Indonesia melalui 
DPR dan Presiden pada tanggal 11 Juni 2003 telah mensahkan Undang-undang
 Sistem Pendidikan Nasional yang baru, sebagai pengganti Undang-undang 
Sisdiknas Nomor 2 Tahun 1989. Undang-undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 
2003 yang terdiri dari 22 Bab dan 77 pasal tersebut juga merupakan 
pengejawantahan dari salah satu tuntutan reformasi yang marak sejak 
tahun 1998. Perubahan mendasar yang dicanangkan dalam Undang-undang 
Sisdiknas yang baru tersebut antara lain adalah demokratisasi dan 
desentralisasi pendidikan, peran serta masyarakat, tantangan 
globalisasi, kesetaraan dan keseimbangan, jalur pendidikan, dan peserta 
didik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;DEMOKRATISASI DAN DESENTRALISASI (OTONOMI DAERAH)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;Tuntutan
 reformasi yang sangat penting adalah demokratisasi, yang mengarah pada 
dua hal yakni pemberdayaan masyarakat dan pemberdayaan pemerintah daerah
 (otda). Hal ini berarti peranan pemerintah akan dikurangi dan 
memperbesar partisipasi masyarakat. Demikian juga perana pemerintah 
pusat yang bersifat sentralistis dan yang telah berlangsung selama 50 
tahun lebih, akan diperkecil dengan memberikan peranan yang lebih besar 
kepada pemerintah daerah yang dikenal dengan sistem desentralisasi. 
Kedua hal ini harus berjalan secara simultan; inilah yang merupakan 
paradigma baru, yang menggantikan paradigma lama yang sentralistis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;Konsep
 demokratisasi dalam pengelolaan pendidikan yang dituangkan dalam UU 
Sisdiknas 2003 bab III tentang prinsip penyelenggaraan pendidikan (pasal
 4) disebutkan bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan 
berkeadilan, serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak 
asasi manusia, nilai keagamaan , nilai kultural, dan kemajemukan bangsa 
(ayat 1). Karena pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses 
pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang 
hayat (ayat 3), serta dengan memberdayakan semua komponen masyarakat, 
melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan 
pendidikan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;Pemerintah
 (pusat) dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, 
serta menjamin terselenggaranya pendidikan bermutu bagi warga negara 
tanpa diskriminasi (pasal 11 ayat 1). Konsekwensinya pemerintah (pusat) 
dan pemerintah daerah wajib menjamin tersedianya dana guna 
terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia 7- 15 
tahun (pasal 11 ayat 2). Itulah sebabnya pemerintah (pusat) dan 
pemerintah daerahmenjamin terselenggaranya wajib belajar, minimal pada 
jenjang pendidikan dasar tanpa dipungut biaya, karena wajib belajar 
adalah tanggung jawab negara yang diselenggarakan oleh pemerintah 
(pusat), pemerintah daerah, dan masyarakat (pasal 34 ayat 2). Dengan 
adanya desentralisai penyelenggaraan pendidikan dan pemberdayaan 
masyarakat, maka pendanaan pendidikan menjadi tanggungjawab bersama 
antara pemerintah (pusat), pemerintah daerah, dan masyarakat (pasal 46 
ayat 1). Bahkan, pemerintah (pusat) dan pemerintah daerah 
bertanggungjawab menyediakan anggaran pendidikan sebagaimana diatur 
dalam pasal 31 ayat (4) Undang Undang Dasar Negara RI tahun 1945 – 
(&quot;Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya duapuluh
 persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta anggaran 
pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan 
pendidikan nasional”) – (pasal 46 ayat 2). Itulah sebabnya dana 
pendidikan, selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan, harus 
dialokasikan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 
(APBN) pada sektor pendidikan, dan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan 
dan Belanja daerah (APBD) (pasal 49 ayat 1). Khusus gaji guru dan dosen 
yang diangkat oleh pemerintah (pusat) dialokasikan dalam APBN (pasal 49 
ayat 2).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;Sumber
 pendanaan pendidikan ditentukan berdasarkan prinsip keadilan, 
kecukupan, dan keberlanjutan (pasal 47 ayat 1). Dalam memenuhi 
tuntutan-tuntutan tersebut maka pemerintah (pusat), pemerintah daerah, 
dan masyarakat mengerahkan sumber daya yang ada sesuai dengan peraturan 
perundang-undangan yang berlaku (pasal 47 ayat 2). Oleh karena itu maka 
pengelolaan dan pendidikan harus berdasarkan prinsip keadilan, 
efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas publik (pasal 48 ayat 2). 
Meskipun terjadi desentralisasi pengelolaan pendidikan, namun 
tanggungjawab pengelolaan sistem pendidikan nasional tetap berada di 
tangan menteri yang diberi tugas oleh presiden (pasal 50 ayat 1), yaitu 
menteri pendidikan nasional. Dalam hal ini pemerintah (pusat) menentukan
 kebijakan nasional dan standard nasional pendidikan untuk menjamin mutu
 pendidikan nasional (pasal 50 ayat 2). Sedangka pemerintah provinsi 
melakukan koordinasi atas penyelenggaraan pendidikan, pengembangan 
tenaga kependidikan, dan penyediaan fasilitas penyelenggaraan pendidikan
 lintas daerah kabupaten/kota untuk tingkat pendidikan dasar dan 
menengah. Khusus untuk pemerintah kabupaten/kota diberi tugas untuk 
mengelola pendidikan dasar dan menengah, serta satuan pendidikan yang 
berbasis keunggulan lokal. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;Satuan
 pendidikan yang berbasis keunggulan lokal, merupakan paradigma baru 
pendidikan, untuk mendorong percepatan pembangunan di daerah berdasarkan
 potensi yang dimiliki oleh masyarakat lokal. Dalam hal ini pewilayahan 
komoditas harus dibarengi dengan lokalisasi pendidikan dengan basis 
keunggulan lokal. Hak ini bukan saja berkaitan dengan kurikulum yang 
memperhatikan juga muatan lokal (pasal 37 ayat 1 huruf j), melainkan 
lebih memperjelas spesialisasi peserta didik, untuk segera memasuki 
dunia kerja di lingkungan terdekatnya, dan juga untuk menjadi ahli dalam
 bidang tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;Dengan
 demikian persoalan penyediaan tenaga kerja dengan mudah teratasi dan 
bahkan dapat tercipta secara otomatis. Selain itu pemerintah (pusat) dan
 pemerintah daerah wajib menyelenggarakan sekurangkurangnya satu satuan 
pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi 
satuan pendidikanm yang bertaraf internasional (pasal 50 ayat 3). Hal 
ini dimaksudkan agar selain mengembangkan keunggulan lokal melalui 
penyediaan tenaga-tenaga terdidik, juga menyikapi perlunya tersedia 
satuan pendidikan yang dapat menghasilkan lulusan kaliber dunia di 
Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;Untuk
 menjamin terselenggaranya pendidikan yang berkualitas, maka pemerintah 
(pusat) dan pemerintah daerah wajib memfasilitasi satuan pendidikan 
dengan pendidik dan tenaga kependidikan yang diperlukan (pasal 42 ayat 
2). Dalam hal ini termasuk memfasilitasi dan/atau menyediakan pendidik 
dan/atau guru yang seagama dengan peserta didik dan pendidik dan/atau 
guru untuk mengembangkan bakat, minat dan kemampuan peserta didik (pasa 
12 ayat 1 huruf a dan b). Pendidik dan tenaga kependidikan dapat bekerja
 secara lintas daerah, yang pengangkatan, penempatan dan penyebarannya 
diatur oleh lembaga yang mengangkatnya berdasarkan kebutuhan satuan 
pendidikan formal (pasal 41 ayat 1 dan 2)). Selain itu pemerintah 
(pusat) atau pemerintah daerah memiliki kewenangan mengeluarkan dan 
mencabut izin bagi semua satuan pendidikan formal maupun non formal 
(pasal 62 ayat 1), sesuai dengan lingkup tugas masing-masing. Dengan 
adanya desentralisasi perizinan akan semakin mendekatkan pelayanan 
klepada rakyat, sesuai dengan tujuan otonomi pemerintahan daerah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;PERAN SERTA MASYARAKAT&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;Demokratisasi
 penyelenggaraan pendidikan, harus mendorong pemberdayaan masyarakat 
dengan memperluas partisipasi masyarakat dalam pendidikan yang meliputi 
peran serta perorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, dan 
organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu 
pelayanan pendidikan (pasal 54 ayat 1). Masyarakat tersebut dapat 
berperanan sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna hasil pendidikan 
(pasal 54 ayat 2). Oleh karena itu masyarakat berhak menyelenggarakan 
pendidikan yang berbasis masyarakat, dengan mengembangkan dan 
melaksanakan kurikulum dan evaluasi pendidikan, serta &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;manajemen&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;
 dan pendanaannya sesuai dengan standard nasional pendidikan (pasal 55 
ayat 1 dan 2). Dana pendidikan yang berbasis masyarakat dapat bersumber 
dari penyelenggara, masyarakat, pemerintah (pusat), pemerintah daerah 
dan/atau sumber lain (pasal 55 ayat 3). Demikian juga lembaga pendidikan
 yang berbasis masyarakat dapat memperoleh bantuan teknis, subsidi dana,
 dan sumber daya lain secara adil dan merata dari pemerintah (pusat) dan
 pemerintah daerah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;Partisipasi
 masyarakat tersebut kemudian dilembagakan dalam bentuk dewan pendidikan
 dan komite sekolah/madrasah. Dewan pendidikan adalah lembaga mandiri 
yang beranggotakan berbagai unsur masyarakat yang peduli terhadap 
pendidikan. Sedangkan komite sekolah/madrasah adalah lembaga mandiri 
yang terdiri dari unsur orang tua/wali peserta didik, komunitas sekolah,
 serta tokoh masyarakat yang peduli pendidikan (pasal 1 butir 24 dan 
25). Dewan pendidikan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan 
pendidikan, dengan memberikan pertimbangan, &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;arahan&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;,
 dan dukungan tenaga, sarana dan prasarana, serta pengawasan pendidikan 
pada tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota yang tidak mempunyai 
hubungan hirarkis (pasal 56 ayat 2). Sedangkan peningkatan mutu 
pelayanan di tingkat satuan pendidikan peran-peran tersebut menjadi 
tanggungjawab komite sekolah/madrasah (pasal 56 ayat 3).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;TANTANGAN GLOBALISASI&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;Dalam
 menghadapi tantangan globalisasi yang sedang melanda dunia, maka 
sebagaimana dijelaskan di muka, harus ada minimal satu satuan pendidikan
 pada semua jenjang pendidikan yang dapat dikembangkan menjadi satuan 
pendidikan yang bertaraf internasional, baik oleh pemerintah (pusat) 
maupun pemerintah daerah (pasal 50 ayat 3). Untuk itu perlu dibentuk 
suatu badan hukum pendidikan, sehingga semua penyelenggara pendidikan 
dan/atau satuan pendidikan formal, baik yang didirikan oleh pemerintah 
maupun masyarakat, harus berbentuk badan hukum pendidikan (pasal 53 ayat
 1). Badan hukum pendidikan yang dimaksud akan berfungsi memberikan 
pelayanan kepada peserta didik (pasal 53 ayat 2). Badan hukum pendidikan
 yang akan diatur dengan undang-undang tersendiri (pasal 53 ayat 4) itu,
 harus berprinsip nirlaba dan dapat mengelola dana secara mandiri untuk 
memajukan satuan pendidikan (pasal 53 ayat 3).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;Dengan
 adanya badan hukum pendidikan itu, maka dana dari masyarakat dan 
bantuan asing dapat diserap dan dikelola secara profesional, transparan 
dan akuntabilitas publiknya dapat dijamin. Dengan demikian badan hukum 
pendidikan akan memberikan landasan hukum yang kuat kepada 
penyelenggaraan pendidikan dan/atau satuan pendidikan nasional yang 
bertaraf internasional dalam menghadapi persaingan global. Selain itu 
diperlukan pula lembaga akreditasi dan sertifikasi. Akreditasi dilakukan
 untuk menentukan kelayakan program dan satuan pendidikan pada jalur 
pendidikan formal dan non formal pada setiap jenjang dan jenis 
pendidikan (pasal 60 ayat 1), yang dilakukan oleh pemerintah (pusat) 
dan/atau lembaga mandiri yang berwenang sebagai bentuk akuntabilitas 
publik (pasal 60 ayat 2). Akreditasi dilakukan atas kriteria yang 
bersifat terbuka (pasal 60 ayat 3), sehingga semua pihak, terutama 
penyelenggara dapat mengetahui posisi satuan pendidikannya secara 
transparan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;Dalam
 menghadapi globalisasi, maka penyerapan tenaga kerja akan ditentukan 
oleh kompetensi yang dibuktikan oleh sertifikat kompetensi, yang 
diberikan oleh penyelenggara satuan pendidikan yang terakreditasi atau 
lembaga sertifikasi kepada peserta didik dan masyarakat yang dinyatakan 
lulus setelah mengikuti uji kompetensi tertentu (pasal 61 ayat 3). Dalam
 mengantisipasi perkembangan global dan kemajuan teknologi komunikasi, 
maka pendidikan jarak jauh diakomodasikan dalam sisdiknas, sebagai 
paradigma baru pendidikan. Pendidikan jarak jauh tersebut dapat 
diselenggarakan pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan, yang 
berfungsi untuk memberi layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat 
yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler 
(pasal 31 ayat 1 dan 2).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;KESETARAAN DAN KESEIMBANGAN&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;Paradigma
 baru lainnya yang dituangkan dalam UU Sisdiknas yang baru adalah konsep
 kesetaraan, antara satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh 
pemerintah dan satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat. 
Tidak ada lagi istilah satuan pendidikan &quot;plat merah” atau &quot;plat 
kuning”; semuanya berhak memperoleh dana dari negara dalam suatu sistem 
yang terpadu. Demikian juga adanya kesetaraan antara &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;satuan&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;
 pendidikan yang dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional dengan 
satuan pendidikan yang dikelola oleh Departemen Agama yang memiliki ciri
 khas tertentu. Itulah sebabnya dalam semua jenjang pendidikan 
disebutkan mengenai nama pendidikan yang diselenggarakan oleh Departemen
 Agama (madrasah, dst.). Dengan demikian UU Sisdiknas telah menempatkan 
pendidikan sebagai satu kesatuan yang sistemik (pasal 4 ayat 2).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;Selain
 itu UU Sisdiknas yang dijabarkan dari UUD 45, telah memberikan 
keseimbangan antara peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia dalam 
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini tergambar dalam fungsi dan
 tujuan pendidikan nasional, yaitu bahwa pendidikan nasional berfungsi 
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang 
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, dan bertujuan 
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang 
beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, serta berakhlak mulia, sehat, 
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang 
demokratis serta bertanggungjawab (pasal 3). Dengan demikian UU 
Sisdiknas yang baru telah memberikan keseimbangan antara iman, ilmu dan 
amal (shaleh). Hal itu selain tercermin dari fungsi dan tujuan 
pendidikan nasional, juga dalam penyusunan kurikulum (pasal 36 ayat 3) ,
 dimana peningkatan iman dan takwa, akhlak mulia, kecerdasan, ilmu 
pengetahuan, teknologi, seni dan sebagainya dipadukan menjadi satu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;&lt;br&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;JALUR PENDIDIKAN&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;Perubahan
 jalur pendidikan dari 2 jalur : sekolah dan luar sekolah menjadi 3 
jalur: formal, nonformal, dan informal – (pasal 13) juga merupakan 
perubahan mendasar dalam Sisdiknas. Dalam Sisdiknas yang lama pendidikan
 informal (keluarga) tersebut sebenarnya juga &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;telah&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;
 diberlakukan, namun termasuk dalam jalur pendidikan luar sekolah, dan 
ketentuan penyelenggaraannyapun tidak konkrit. Jalur formal terdiri dari
 pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi (pasal 
14), dengan jenis pendidikan: umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi,
 keagamaan, dan khusus (pasal 15). Pendidikan formal dapat diwujudkan 
dalam bentuk satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah 
(pusat), pemerintah daerah dan masyarakat (pasal 16).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;Pendidikan
 dasar yang merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang 
pendidikan menengah berbentuk sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah
 (MI) atau bentuk lain yang sederajat, serta sekolah menengah pertama 
(SMP) dan madrasah tsanawiyah (Mts) &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;atau&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;
 bentuk lain yang sederajad (pasal 17 ayat 1 dan 2). Dengan demikian 
istilah SLTP harus berganti kembali menjadi SMP. Sebelum memasuki 
jenjang pendidikan dasar, bagi anak usia 0-6 tahun diselenggarakan 
pendidikan anak usia dini, tetapi bukan merupakan prasyarat untuk 
mengikuti pendidikan dasar (pasal 28 dan penjelasannya). Pendidikan anak
 usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur formal (TK, raudatul 
athfal, dan bentuk lain yang sejenis), nonformal (&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;kelompok&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;
 bermain, taman/panti penitipan anak) dan/atau informal (pendidikan 
keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;Pendidikan
 menengah yang merupakan kelanjutan pendidikan dasar terdiri atas 
pendidikan umum dan pendidikan kejuruan, serta berbentuk sekolah 
menengah atas (SMA) , madrasah aliyah (MA), sekolah menengah kejuruan 
(SMK), dan madrasah aliyah kejuruan (MAK) atau bentuk lain yang 
sederajad (pasal 18). Sebagaimana istilah SLTP, maka sebutan SLTA 
berganti lagi menjadi SMA. Pendidikan tinggi yang merupakan jenjang &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;pendidikan&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;
 setelah pendidikan menengah, mencakup program pendidikan diploma, 
sarjana, magister, dan doktor, yang diselenggarakan dengan sistem 
terbuka (pasal 19 ayat 1-3). Perguruan tinggi dapat berbentuk akademi, 
politeknik, sekolah tinggi, institut atau universitas, yang berkewajiban
 menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat,
 dan dapat menyelenggarakan program akademik, profesi dan/atau vokasi 
(pasal 20 ayat 1- 3).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;Perguruan tinggi juga &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;dapat&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;
 memberikan gelar akademik, profesi atau vokasi sesuai dengan program 
pendidikan yang diselenggarakan (pasal 21 ayat 1). Bagi perguruan tinggi
 yang memiliki program doktor berhak memberikan gelar doktor kehormatan 
(doktor honoris causa) kepada individu yang layak memperoleh penghargaan
 berkenaan dengan jasa-jasa yang luar biasa dalam bidang ilmu 
pengetahuan, teknologi, kemasyarakatan, keagamaan, kebudayaan, atau seni
 (pasal 22). Selain itu masalah yang cukup aktual dan meresahkan 
masyarakat, seperti pemberian gelar-gelar instan, pembuatan skripsi atau
 tesis palsu, ijazah palsu dan lain-lain, telah diatur dan diancam 
sebagai tindak pidana dengan sanksi yang juga telah ditetapkan dalam UU 
Sisdiknas yang baru (Bab XX Ketentuan Pidana, pasal 67-71).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial;&quot;&gt;Pendidikan
 nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan
 pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau 
pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang 
hayat, dan berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan 
penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta 
pengembangan sikap dan kepribadian profesional (pasal 26 ayat 1 dan 2). 
Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan 
anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan 
perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan 
kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk
 mengembangkan kemampuan peserta didik (pasal 26 ayat 3). Satuan 
pendidikan nonformal meliputi lembaga kursus, lembaga pelatihan, 
kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM), dan majelis 
taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis. Hasil pendidikan nonformal
 dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah 
melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh 
pemerintah (pusat) dan pemerintah daerah dengan mengacu pada standard 
nasional pendidikan (pasal 26 ayat 6). Sedangkan pendidikan informal 
adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan 
berbentuk kegiatan belajar secara mandiri, yang hasilnya diakui sama 
dengan pendidikan formal dan non formal setelah peserta didik lulus 
ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan (pasal 27).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;</content:encoded>
			<link>https://smpkosgoro.do.am/blog/paradigma_baru_pendidikan_nasional/2010-12-20-5</link>
			<dc:creator>kosgoro</dc:creator>
			<guid>https://smpkosgoro.do.am/blog/paradigma_baru_pendidikan_nasional/2010-12-20-5</guid>
			<pubDate>Mon, 20 Dec 2010 11:39:19 GMT</pubDate>
		</item>
	</channel>
</rss>